Jika Komitmen terhadap Dakwah Benar-benar Tulus…

“Dan antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah ; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” [Al-Ahzab:33:23]

1. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak aktivis dakwah yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.

2. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.

3. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para aktivis dakwah akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.

4. Jika komitmen aktivis dakwah dakwah benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau di barisan belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau dihormati.

5. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka hati seorang aktivis dakwah akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.

6. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung adalah ”Saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin Anda akan selalu memaafkan saya.”

7. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap aktivis dakwah, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan yang mencegah kemungkaran. Atau, menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta isterinya di rumah. Aktivis dakwah yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.

8. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap aktivis dakwah akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.

9. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada kata ‘YA’ untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata ‘YA’ untuk segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.

10. Jika komitmen para aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.

Sumber : Kitab ”Komitmen Da’i Sejati”, Muhammad Abduh

Menapak ke Depan

Setiap manusia selalu melalui fase-fase dalam hidupnya. Fase kehidupan itu selalu silih berganti, kadang terjadi tanpa disadari. Hanya mereka yang mampu memaknai tiap fase kehidupan yang mampu mengambil pelajaran untuk memperbaiki diri maupun lingkungan ke depannya.

Satu fase telah terlewati. Dengan segala haru birunya, dengan segala suka dukanya, dengan segala jatuh bangunnya. Beberapa hari ke depan merupakan hari yang menentukan. Persiapan-persiapan pun terus dilakukan. Semoga Allah berkenan memberikan takdir yang terbaik sesuai harapan.

Kawan…

Apakah kau siap menapaki jalan nan terbentang…

Mungkin, kaki kita tak lagi bisa berjalan beriringan…

Namun hati kita semoga dapat selalu berada berdampingan…

Tak usahlah kau ragu dan bimbang kawan…

Bumi Allah begitu luas terbentang..

Kau pandang, ke kiri, ke kanan, selalu ada bukti kasih sayang-Nya yang dapat kita rasakan….

Kawan..

Jangan pernah kau lupa janji yang telah kita ucapkan…

Di kala kita sering bercengkrama tentang mimpi-mimpi kita…

Di kala kita mengerutkan dahi berusaha menemukan seberkas cahaya harapan…

Di kala tangan saling berebutan mengulurkan bantuan…

Di kala badai membuat kita kuyup kedinginan…

Kawan…

Semoga Allah selalu mengikat kita dalam keimanan…

Berharap Allah berkenan mengokohkan kita dalam kebaikan…

Sampai akhir usia kita yang entah kapan…

Notes:

Untuk semua saudari/a ku yang selalu mengokohkan…

jazakumullah khairan katsir…semoga Allah membalas semua kebaikan yang kalian berikan

Selalu Ada Kata Harap

Langit mendung siap menurunkan hujan…

Angin pun meracau mendukung gerimis datang tak terhentikan…

 

Namun, kita masih di sini kawan…

Beratapkan payung, mengharap secercah harapan…

Harapan akan mentari yang akan bersinar menggantikan…

 

Kita akan terus di sini, untuk terus bertahan

Tak peduli kuyup seluruh badan

Tak peduli limbung diterpa ganasnya topan

Tak peduli digertak halilintar yang memekakkan

 

Harapan…tidak hanya sebuah harapan…

Tapi ia adalah semangat yang berkobar tak terpadamkan

walaupun oleh badai, topan, atau halilintar yang memberi gertakan

 

Bertahanlah kawan…

Mungkin apa yang kita tuju tinggal selangkah ke depan

Selama iman masih ditancapkan

Selama niat terus dimurnikan

Maka Allah akan selalu memberikan pertolongan…

 

Hakikat Sabar

Setiap peristiwa pasti mempunyai hikmahnya tersendiri. Seperti halnya Perang Badar yang membawa kegemilangan bagi kaum muslimin generasi pertama, dengan segala pelajaran yang Allah ingin sampaikan pada kaum muslimin. Pelajaran bahwa kekuatan ruhiyah dan jiwa itu yang utama, pelajaran bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Lain lagi dengan Perang Uhud yang menggambarkan pentingnya kedisiplinan, kemurnian niat, serta kesatuan komando dalam berjihad. Berhasilnya pasukan muslim memukul kaum Quraisy, serta berlimpahnya ghanimah yang berserak, membuat mereka terbuai dan meninggalkan pos-pos pertahanan yang seharusnya mereka jaga. Ada pula, seorang munafik Madinah, Abdullah bin Ubay yang di tengah perjalanan menuju perang Uhud berbalik pulang ke Madinah dengan membawa sepertiga pasukan muslim bersamanya.

Begitulah Allah mempergilirkan kemenangan dan kekalahan di antara manusia, bahkan umat Islam sekalipun.

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran itu), Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir); dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya sebagai syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Juga agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS Ali Imran: 140-141)

Apakah dengan memberikan kekalahan dan cobaan maka itu berarti Allah tidak menyayangi umat Islam. Jawabannya tentu tidak. Seperti disebutkan ayat di atas, ujian dan cobaan yang dialami umat Islam tersebut, baik masa lalu atau di zaman kapan pun sampai sekarang, ialah untuk mendidik serta mempersiapkan umat Islam menjadi umat yang sanggup memimpin manusia menuju jalan Rabbani. Satu kata yang selalu ada ialah sabar dan tetap teguh memegang prinsip-prinsip keimanan dan kesabaran dalam melalui semuanya.

Tidak jarang bila saya menemui masalah, saya selalu merasa diingatkan oleh Allah dengan apa yang kebetulan saya baca, alhamdulillah. Seperti kejadian hari ini, saya merasa terhenyak membaca surat QS Ali-Imran: 142 beserta penjelsan tafsirnya yang seakan mengobati keresahan serta masalah yang berputar-putar seperti benang kusut di kepala. Seperti setetes embun yang menyegarkan rumput yang kehausan di musim kemarau.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS Ali Imran: 142)”

‘Maka, belum cukup kalau orang mukmin itu hanya berjihad saja. Tetapi, ia juga harus bersabar memikul tugas-tugas dakwah ini. Tugas yang terus-menerus dan beraneka macam, yang tidak berhenti di medan jihad saja. Karena, kadang-kadang jihad di medan tempur itu lebih ringan bebannya daripada tugas-tugas dakwah yang menuntut kesabaran dan ujian iman. Di dalam dakwah terdapat tugas-tugas dan penderitaan harian yang tidak berkesudahan. Yaitu harus bersikap istiqomah di atas ufuk iman, senantiasa memenuhi konsekuensinya dalam perasaan dan perilaku, dan bersabar dalam menjalankan semua itu ketika menghadapi kelemahan-kelemahan manusia, di antara orang-orang mukmin yang bergaul dengannya dalam kehidupan sehari-hari. Juga bersabar menghadapi masa-masa di mana kebatilan mendapatkan posisi yang tinggi, subur, dan tampak seperti pemenang; dalam menghadapi panjangnya jalan, lamanya penderitaan, dan bayaknya rintangan; dalam menghadapi bisikan-bisikan untuk istirahat dan lari dari tugas karena banyaknya tenaga yang harus dikeluarkan, kesedihan yang harus ditanggung, dan hal-hal yang melelahkan, dan bersabar dalam banyak hal yang mana jihad di medan tempur hanya merupakan salah satunya saja. Bersabar dalam banyak hal di jalan dakwah yang penuh dengan hal-hal tidak menyenangkan. Karena, jalan surga tidak mungkin dapat diperoleh hanya dengan khayalan dan ucapan lisan belaka.’ (Tafsir fi Zhilalil Quran Jilid 2 hal 171-172)

Kadang, bahkan sering, saya merasa apa yang dilakukan belum juga cukup sebenarnya untuk memenuhi amanah yang telah diberikan di pundak kita. Sangat takut, seandainya yang dilakukan bukanlah yang yang terbaik yang dapat kita berikan untuk dakwah ini. Sangat takut, seandainya keterlambatan kita, terlambat dalam rapat, terlambat membahas suatu masalah, merupakan bentuk kelalain kita dalam menjalankan amanah. Karena, dakwah ini akan terus berjalan, dengan ataupun tanpa kita. Sangat takut, seandainya kita menjadi beban dalam dakwah bukan menjadi penggerak dakwah. Fa idza azamta fa tawakkal alalloh.

Salam untuk Sang Fajar

 

Lihatlah Hari ini

Sebab ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan

Dalam sekejap ia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu

Nikmat pertumbuhan

Pekerjaan yang indah

Indahnya kemenangan

Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi

Dan esok hari hanyalah bayangan

Namun hari ini ketika anda hidup sempurna

telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah

Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan

Maka lihatlah hari ini

Inilah salam untuk sang fajar

 

(dari sebuah buku yang akan selalu teringat)

Mahalnya Seorang Sahabat

Apa yang kau pikirkan tidaklah selalu menjadi kenyataan

Kadang kau harus menelan sesuatu yang pahit dan berat,

Bahkan sendirian

Berjalan dan terus berjalan, berusaha dan terus berusaha, bertahan dan terus bertahan

Itulah yang terus diusahakan

Cita-cita besar menuntut pengorbanan yang besar

Keringat membasahi baju

Kepala dibanjiri segudang rencana

Jiwa dan raga dituntut untuk selalu bergerak

Tetapi,

Dalam melewati semuanya

Saudara seiman seperjuangan melebihi segalanya

Harta teramat mahal dibanding segalanya

Mereka yang berada di sampingmu untuk mendengar keluh kesahmu

Mereka yang selalu memotivasimu dalam keputusasaanmu

Mereka yang selalu menenangkan dalam kebimbanganmu

Mereka yang selalu meluruskan dalam kekhilafanmu

Kadang, kau merindukan saat-saat itu

Ketika peluh membanjiri keringat dan kita tertawa bersama

Ketika badan ini terasa remuk dan kita merasa puas akan hasil kerja keras kita

Ketika segudang masalah bertumpuk dan kita masih tersenyum bersama

-Untuk semua yang telah banyak membantu selama ini-

Persepsi Ramadhan

 


Tlah datang menjelang, meluruhkan kerinduan..

Ramadhan, sambut ke hadapan

Bulan perjuangan tingkatkan iman…

Pupuk pengorbanan suci

Bina kesungguhan, bina keihklasan

Berbekal takwa untuk kehidupan..

…………….

Keridhoan bukanlah suatu kemudahan

Capai gelaran kehormatan

Ambang Ar Royyan dihadapan

…………….

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan

Tinggikan hari dengan kesibukan robbani

Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa

Tiada hasil kecuali lapar dahaga

(Ramadhan, by Izzatul Islam)

Ramadhan, mungkin kata itu sudah seringkali kita dengar semenjak kita kecil dahulu. Sampai-sampai karena seringnya mungkin terasa sebagai sesuatu yang biasa saja dan rutinitas belaka. Sahur, merasakan lapar dan haus, berbuka, lalu begitu lagi besok paginya.

”Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Tapi apakah hanya itu yang kita rasakan selama ramadhan ? Naudzubillah, semoga kita bukan termasuk orang yang dimaksud seperti hadits di atas.

Sebagaimana hari diskon yang selalu disambut meriah oleh kaum ibu. Mungkin begitulah ibarat ramadhan yang merupakan bukti cinta Allah pada kita. Lalu bagaimanakah kita saat ini menyambut ramadhan? Apakah persiapan yang sudah kita lakukan ?

Persiapan merupakan aspek  yang mutlak dalam setiap hal. Ketika akan pergi rekreasi kita perlu persiapan, ketika ingin mengadakan suatu acara kita perlu persiapan, bahkan untuk keluar rumah sehari-hari pun kita perlu persiapan, paling tidak ongkos di tangan. Nah, begitu juga Ramadhan sangat berhak dan wajib kita siapkan.  Persepsi kita tentang Ramadhan, mungkin itulah yang mempengaruhi bagaimana kita menyiapkan ramadhan kita selama ini.

Apa sih istimewanya Ramadhan sehingga perlu disiapkan dan disambut ?

” Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa, dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para Malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah pada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yag tidak mendapat rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath-Thabrani)

 

Apakah kita patut bersombong diri, melewatkan ramadhan begitu saja, sementara dosa sebesar gunung sedang ada di pundak kita. Tidak mungkin seseorang lepas dari salah dan khilaf. Bahkan kalu kita mau jujur, hitung saja per harinya berapa kekhilafan kita lalu dikalikan dengan sudah berapa lama kita hidup. Menghitungnya saja memusingkan bukan? Ya, di bulan Ramadhan Allah memberikan ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang meminta ampunan.

Pernah dengar surat Al-Zalzalah? Surat yang menggambarkan suasana hari kiamat. Kelak di hari pembalasan setiap orang mendapatkan balasannya dengan adil, baik kebaikan maupun keburukan. Generasi awal umat Islam sangat memahami esensi dari surat ini.

Abdullah Amr bin Ash berkata ”Ketika turun surat Al-Zalzalah seketika Abu Bakar yang sedang duduk menangis. Maka Rasul pun menghampirinya dan bertanya, ”Apa yang membuatmu menangis, wahai Abu Bakar?”, ”Surat inilah yang membuatku menangis,”jawabnya. Maka Rasulullah menenangkannya dengan berkata

” Jika kalian tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka Allah akan menciptakan kaum lain yang mereka itu melakukan salah dan dosa kemudian mereka bertaubat dan Allah mengampuni mereka.” (HR Ath-Thabrani dan Baihaqi)

Jadi perbaiki persepsi kita mulai sekarang, jangan mempersepsikan Ramadhan sebagai waktu kita bermalas-malasan. Bahkan umat Islam mencapai hal-hal yang gemilang justru di bulan Ramadhan. Misalnya, perang Badar pada 17 Ramadhan tahun ke-2 H, merupakan perang dengan kemenangan terbesar di saat masa awal Islam di Madinah. Pada Ramadhan 15 H, terjadi perang Qadissiyah di mana-mana majusi di  Persia berhasil ditumbangkan. Hari kemerdekaan Indonesia pun juga terjadi di bulan Ramadhan.

Jadi, mari rencanakan dari sekarang, persiapkan dari sekarang. Apa prestasi  yang mau kita raih selama bulan ramadhan baik prestasi ibadah maupun prestasi kerja ? Pepatah bilang gagal merencanakan berarti gagal melaksanakan. Jangan bermimpi bisa menamatkan 30 juz Al-Quran jika sejak sekarang tilawah Quran pun tidak pernah. Jangan mengira dapat mendapatkan keutamaan qiyamul lail jika sejak sekarang qiyamul lail saja selalu kelewatan. Masih ada waktu seminggu lagi, mari kita berlomba menjadi yang terbaik di bulan Ramadhan. Ukir prestasimu di bulan Ramadhan !

Impian ialah hal manis yang paling manis

pohon

Kawan, percayakah kau?
aku memiliki beratus-ratus juta impian..

Aku bermimpi melihat sinar Islam berkilauan muncul dari bumi khatulistiwa
Aku bermimpi diriku ialah bagian dari penyulut sinar nan mahadahsyat itu
Aku bermimpi kita berjalan berdampingan melangkah maju pasti menyebarkan cahaya Islam
Aku bermimpi masjid, mushala dan surau-suaru dipenuhi gegap gempita aktivitas umat
Aku bermimpi semua muslimah mengenakan busana takwa dengan penuh kesadaran
Aku bermimpi hari-hari penuh terwarnai akhlak Quran

Ah, Kawan puaskah kau hanya bermimpi?
Kawan, sadarkah kau mimpi ini merupakan awal sebuah kenyataan
Kawan, maukah kau menggapai gambaran nan indah di pelupuk matamu

Apakah kita rela melepaskan mimpi dengan kedok kemalasan dan ketidakmungkinan
Kadang, kita selalu memiliki seribu alasan untuk menyerah melepaskan begitu saja impian
Kadang, rasa putus asa dan kesendirian menggerogoti keikhlasan
Kadang, remuk tulang menguji kesabaran
Kadang, rasa kesal dan kecewa menjadi pengotor hati yang kehilangan kepercayaan
Kadang, bayang-bayang kegagalan menyelimuti keoptimisan
Kadang, egoisme pribadi menghadang hati yang sedang bimbang

Kawan, teruslah berusaha mewujudkan pelangi mimpi itu…
Karena Allah tidak akan merubah suatu kaum…
jika kaum tersebut tidak mau berusaha merubah dirinya sendiri…

Tidak ada kata TERLAMBAT…

runninglate

Dulu di SMA saya, ada cerita heroik yang sering diperankan murid-muridnya, yaitu cerita perjuangan orang-orang yang terlambat datang untuk bisa masuk ke sekolah. Sekolah saya ialah sebuah SMA negeri yang menerapkan jam 7 pagi sebagai jam masuknya. Setiap murid yang lewat 1 detik saja dari jam itu akan berhadapan dengan pak satpam yang akan mentah-mentah menolak membuka gerbang. Beruntung saya belum pernah merasakan memanjat tembok demi masuk ke sekolah. Kalau sudah jam 7 kurang limabelas, untuk cari selamat saya biasanya naik ojek, jadi sampai sekolah tepat waktu. Abang ojek langsung panen jika kebetulan sedang macet karena banyak murid yang memakai jasa ojek untuk sampai ke sekolah.

Beragam cara dilakukan oleh mereka yang terlambat datang untuk masuk ke sekolah. Rute yang dapat dijadikan pilihan diantaranya ialah menyeberangi rawa memakai getek lalu memanjat tembok belakang sekolah. Jelas saja ini merupakan tontonan gratis bagi warga, karena letak sekolah saya dihimpit oleh kompleks perumahan yang padat bahkan diantaranya kumuh. Mungkin ada yang bingung apa itu getek? Getek ialah kendaraan air berupa bilah-bilah bambu yang dijadikan satu lalu kita naik di atasnya. Karena di belakang sekolah ada sebuah rawa/danau maka getek inilah salah satu kendaraan favoritnya.

Tembok ataupun pagar yang dipanjat, bukan yang pendek tapi cukup tinggi ukurannya. Jadi untuk yang tidak terbiasa panjat memanjat butuh usaha ekstra. Langkah selanjutnya setelah berhasil melompati tembok sekolah ialah mengkontak teman yang ada di kelas untuk mengetahui keadaan di kelas, apakah ada guru atau tidak, mungkinkah langsung masuk dengan membawa tas, dsb. Bila ada guru di kelas, biasanya tas akan ditaruh di tempat yang aman dan tidak dibawa masuk ke kelas, sehingga orang tersebut dapat berpura-pura telat masuk ke kelas karena dari toilet misalnya, bukan karena terlambat. Biasanya, kami sekelas sudah kompak bekerjasama memasukkan teman kami yang telat itu agar bisa masuk ke kelas. Bahkan, diantara guru ada yang tahu tapi pura-pura tidak tahu tentang hal ini. Mungkin mereka berpikir, dulu mereka juga begitu dan niat baik untuk masuk sekolah sebaiknya tidak dilarang.

Terlambat, bukan suatu hal yang sepenuhnya baik pun juga buruk. Terlambat merupakan suatu hal yang melanggar kedisplinan. Orang yang selalu terlambat akan dikenal sebagai orang yang tidak menepati waktu dan tidak profesional. Tetapi terlambat menyadari kebaikan masih lebih baik daripada berpaling dari kebaikan. Pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.Terlambat meyadari kesalahan dan kekurangan diri lebih baik daripada tidak menyadarinya. Terlambat meminta maaf masih lebih baik daripada tidak meminta maaf. Tidak apa kita menjadi orang yang terlambat, asal terlambat untuk sebuah kebaikan, tapi lebih baik menjadi orang yang selalu terdepan.

Di sisi lain, keterlambatan akan mengajarkan pada kita untuk berbuat lebih baik di lain kesempatan, untuk tidak terlambat lagi saat mengerjakannya. Keterlambatan yang diikuti oleh perjuangan untuk mengoreksinya memberikan pelajaran yang berharga bagi pelakunya. Pelajaran bahwa tak apa menjadi yang terlambat untuk menjadi yang terdepan….

Menyikapi Rutinitas

heaven-watch

Setiap orang memiliki ritme hidupnya sendiri yang khas dan unik. Setiap hari bangun di jam yang sama. Berangkat ke kampus atau kantor dengan kendaraan yang sama. Bertemu dengan orang yang sama dengan pekerjaan yang sama. Begitu terus berjalan detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Terselipkah rasa jenuh dalam benak anda?

Yap, pasti ada walaupun hanya sekelebat. Namun bagi mereka yang mencintai pekerjaannya agaknya pikiran kebosanan jarang melintas. Tak ada yang salah dalam rutinitas, yang salah ialah apabila kita terjebak dalam rutinitas tanpa perbaikan atau kemajuan. Bukankah seorang manusia akan merugi bila hari ini ia melakukan hal yang sama dengan hari kemarin. Rutinitas bagi sebagian orang perlu, karena tanpa rutinitas hidupnya akan berjalan tak terarah dan terombang-ambing. Seorang mahasiswa yang rutin kuliah tiap harinya merupakan hal yang baik dengan syarat setiap harinya ia benar-benar mendapat tambahan ilmu. Bukan hanya duduk atau yang lebih parah menitip absen.

Di tengah rutinitas mari kita coba ciptakan lompatan-lompatan perubahan, ke arah kebaikan tentunya. Agar yang rutin itu pula terarah menuju kebaikan. Ibadah, misalnya sholat, yang rutin kita kerjakan mungkin akan terasa membosankan jika kita tidak mencoba lebih baik memahami arti surat atau bacaan yang kita lafadzkan ketika sholat. Rutinitas tidak akan memunculkan kebosanan jika kita menyikapinya dengan bijaksana. Satu hal lagi yang tidak kalah penting, setiap kegiatan yang kita niatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah maka ia akan menjadi menyenangkan dan menentramkan walaupun ia merupakan rutinitas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.